Selasa, 13 Juni 2017

Tugas Ekologi Perairan I


Kelompok III
Faldo Manutila 2012-64-005
Patricia L. Tamaela 2014-64-038
Arom Sianly Imapuly 2015-64-021
Syanethe Tomasoa 2015-64-022
Gino Y. Solisa 2015-64-029

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem yang kompleks dan khas, serta memiliki daya dukung yang besar terhadap lingkungan perairan yang ada disekitarnya. Hutan mangrove memiliki karakteristik yang unik dan mengandung potensi besar untuk kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya (Alpha, 1976). Hutan mangrove memiliki peran penting di wilayah pesisir dan memiliki tiga fungsi utama yaitu fungsi fisik, biologis, dan ekonomis (Romimotarto, 2001). Fungsi fisik adalah sebagai penahan angin, penyaring bahan pencemar, penahan ombak, pengendali banjir dan pencegah intrusi air laut ke daratan. Fungsi biologis adalah sebagai daerah pemijahan (spawning ground), daerah asuhan (nursery ground), dan sebagai daerah mencari makan (feeding ground) bagi ikan dan biota laut lainnya. Fungsi ekonomis adalah sebagai penghasil kayu untuk bahan baku dan bahan bangunan, bahan makanan dan obat-obatan. Hutan mangrove menurut Snedaker (1978) adalah kelompok jenis tumbuhan Mangrove yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub-tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah an-aerob. Berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Kehutanan No. 60/Kpts/Dj/I/1978, yang dimaksud dengan hutan mangroveadalah tipe hutan yang terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut, yaitu tergenang air laut pada waktu pasang dan bebas dari genangan pada waktu surut. Di Teluk Ambon, hutan mangrove merupakan ekosistem yang penting untuk mendukung pembangunan dan perlindungan Kota Ambon. Selain sebagai pelindung laut sekaligus pelindung daratan,  hutan mangrove di kawasan ini memiliki fungsi sebagai kawasan konservasi hidupan liar dan pencegah sedimentasi.

Hasil kajian geomorfologi pantai menunjukkan keadaan Teluk Ambon ditopang oleh aliran sungai-sungai kecil dan alur air pasang-surut serta lokasinya terletak pada teluk tertutup terhindar dari hempasan gelombang besar. Karakteristik pantai semacam ini sebenarnya sangat cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan mangrove. Hutan mangrove di Teluk Ambon yang paling luas terdapat di wilayah Passo dan sekitarnya. Ketebalan hutan mangrove di wilayah ini mencapai 200 m dari garis pantai. Hutan mangrove di wilayah tersebut didukung oleh topografi yang landai berupa rataan lumpur yang cocok untuk pertumbuhan hutan mangrove. Untuk melihat kondisi ekosistem hutan mangrove di Passo harus mengukur struktur komunitasnya yaitu kebergaman suatu spesies. Maka dari itu makalah ini membahas mengenai perhitungan keragaman spesies di desa Passo.

1.1.Rumusan Masalah
1.1.1.                  Apa itu struktur komunitas ?
1.1.2.                  Bagaimana parameter sturuktur komunitas ?
1.1.3.                  Bagaimana menghitung keragamaan jenis Mangrove di Passo ?
1.1.4.                  Bagaimana kondisi mangrove di Passo ?

1.2.Tujuan Penulisan Makalah
1.2.1.                  Dapat mengetahui apa itu struktur komunitas
1.2.2.                  Dapat mengetahui parameter struktur komunitas
1.2.3.                  Dapat menghitung keragaman jenis Mangrove di Passo
1.2.4.                  Dapat mengetahui kondisi mangrove di Passo   


BAB II
METODE PRAKTEK

2.1.Waktu dan Lokasi Praktek
Praktek ini dilakukan di daerah Passo atau tepatnya di belakang BTN Passo Indah dekat muara Sungai Air Besar yang mengarah ke Laut Teluk Ambon Dalam (TAD) pada (waktu belum diketahui). Tipe substat Mangrove di Passo yaitu ada yang berlumpur dan ada yang berpasir. Praktek ini dilakukan pada saat surut. Dengan Titik Koordinat Teluk Ambon Dalam yaitu  
Gambar 1. Peta Lokasi Praktek

2.2.Alat
Tabel 1. Alat
Alat
Fungsi/Kegunaan
Kompas
Menentukan titik koordinat
Tali Rapia
Membuat transek
Rol Meter
Mengukur jarak dan diameter pohon
Kamera
Dokumentasi
Alat Tulis
Mencatat hasil
Buku Identifikasi Mangrove
Mengidentifikasi mangrove



23.Teknik Sampling
Metode yang dipakai  yaitu metode transect digunakan untuk mengetahui kondisi vegetasi hutan mangrove dan potensi kehadiran jenis-jenis tanaman mangrove di Passo. Transek yang digunakan untuk praktek yaitu berupa garis lurus dibuat tegak lurus pantai, data dicuplik dengan menggunakan metode kuadrat yang berukuran 1 0 x 1 0 meter untuk pohon (diameter > 10 cm; tinggi >4 m); untuk sapihan (diameter 2-<10 cm; tinggi 2-4m) dibuat petak berukuran 5 x 5 meter. Sedangkan untuk anakan (diameter < 2cm; tinggi 2m). Pada lokasi di ambil 2 plot yang setiap plot yang ada determinasi setiap jenis tumbuhan mangrove yang ada, hitung jumlah individu setiap jenis dan ukur lingkar batang setiap pohon mangrove. Identifikasi jenis mangrove dilakukan secara insitu dengan menggunakan buku identifikasi oleh Noor et al. (1999). Untuk mengetahui pohon, anakan atau sapihan harus mengukur diameter batang dari masing – masing individu. Data vegetasi diperoleh melalui pengamatan lapangan yang dilakukan setiap plot. Data yang diamati adalah vegetasi mangrove untuk semua strata pertumbuhan yaitu pohon, sapihan, dan anakan. Ketentuan untuk pengukuran diameter batang dan perhitungan kerapatan individu tumbuhan dalam praktek  ini dilakukan sebagai berikut: (1) pengukuran dilakukan setinggi 130 cm di atas permukaan tanah; (2) untuk vegetasi yang memiliki banir (untuk pohon-pohon dari marga Bruguiera)/tunjang (untuk pohon-pohon dari marga Rhizophora) dengan ketinggian lebih dari 130 cm di atas pengukuran tanah, pengukuran dilakukan 20 cm di atas banir; (3) vegetasi yang bercabang, apabila letak percabangan lebih tinggi dari 130 cm di atas permukaan tanah, maka pengukuran diameter dilakukan setinggi 130 cm (vegetasi dianggap satu), sedangkan apabila tinggi percabangan di bawah 130 cm dari permukaan tanah, pengukuran dilakukan terhadap semua cabang (vegetasi dianggap sebanyak cabang); (4) apabila setengah atau lebih bagian tajuk masuk ke dalam plot, maka pengukuran dilakukan, namun apabila sebaliknya pengukuran tidak dilakukan; (5) khusus vegetasi anakan tidak dilakukan pengukuran diameter, hanya dihitung jumlah individunya. Diamater pohon ini dikenal dengan DBH (diamater at breast height).


2.4.Analisa data
Syarat dari suatu komunitas mangrove yaitu keragamaan jenis, dominansi, frekuensi , kelimpahannya dll.  
a. Keanekaragaman ditentukan dengan menggunakan rumus kenekaragaman menurut Shannon-Wiener  (1984) dalam Bengen (2000) sebagai berikut :

Dimana :
                        H’        : Indeks diversitas jenis
                        Ni        : Jumlah individu masing-masing jenis
                        N         : Jumlah total individu semua jenis
 

b.  Untuk menghitung suatu spesies yang mendominasi ekosistem mangrove serta frekuensinya yaitu dengan rumus menurut Cintron dan Novelly 1984 sbb :
 
Untuk menghitung jumlah basal area suatu jenis memiliki persamaan yaitu 
 
 dimana R adalah jari - jari lingkaran dai diameter batang; D adalah DBH. BA yang didapatkan kemudian dikonveris menjadim2


c. Untuk melihat kelimpahan data yang diperoleh, digunakan rumus kelimpahan (Heryanti et al., 1986 dalam Dharmawan et al., 2005).
 
Dimana, Pi = Nilai kelimpahan
d. Penutupan Jenis (Ci) adalah luas penutupan jenis i dalam suatu unit area
 
   Dimana,




 adalah suatu konstanta dan DBH adalah diameter pohon dari jenis i, A adalah luas total area plot. DBH = CBH/3.141. CBH adalah besarnya lingkaran pohon


Penutupun Relatif Jenis (RCi) (%) adalah perbandingan antara luas area penutupan jenis i (Ci) dan luas total area penutupan untuk seluruh jenis (SigmaC) maka persamaannya :

e. Kerapatan jenis (Di) merupakan jumlah tegakan jenis ke-i dalam suatu unit area (Bengen, 2000). Penentuan kerapatan jenis melalui rumus :
Di = Ni/A


Dimana :
Di : Kerapatan jenis ke-i
Ni : Jumlah total individu ke-i
A   : Luas total area pengambilan contoh (m²)
Kerapatan relatif (RDi) merupakan jumlah perbandingan antara jumlah jenis tegakan jenis ke-1 dengan total tegakan seluruh jenis (Bengen, 2000). Penentuan kerapatan Relatif (RDi) menggunakan rumus :
 

Dimana :
RDi : Kerapatan Relatif
Ni  : Jumlah total
Σn  : Total tegakan seluruh jenis


f. Jumlah nilai kerapatan relatif jenis (RDi), frekuensi relatif jenis (RFi) dan penutupan relatif jenis (RCi) menunjukan indeks Nilai Penting (INP) untuk masing – masing jenis

INP = Rdi + Rfi+Rci
Nilai penting suatu jenis berkisar antara 0 – 300. Indeks ini memberikan suatu gambaran mengenai pengaruh dan peranan suatu jenis tumbuhan mangrove dalam  suatu komunitas.