Kelompok III
Faldo Manutila 2012-64-005
Patricia L. Tamaela 2014-64-038
Arom Sianly Imapuly 2015-64-021
Syanethe Tomasoa 2015-64-022
Gino Y. Solisa 2015-64-029
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem
yang kompleks dan khas, serta memiliki daya dukung yang besar terhadap
lingkungan perairan yang ada disekitarnya. Hutan mangrove memiliki
karakteristik yang unik dan mengandung potensi besar untuk kehidupan manusia
dan lingkungan sekitarnya (Alpha, 1976). Hutan mangrove memiliki peran penting
di wilayah pesisir dan memiliki tiga fungsi utama yaitu fungsi fisik, biologis,
dan ekonomis (Romimotarto, 2001). Fungsi fisik adalah sebagai penahan angin,
penyaring bahan pencemar, penahan ombak, pengendali banjir dan pencegah intrusi
air laut ke daratan. Fungsi biologis adalah sebagai daerah pemijahan (spawning
ground), daerah asuhan (nursery ground), dan sebagai daerah mencari
makan (feeding ground) bagi ikan dan biota laut lainnya. Fungsi ekonomis
adalah sebagai penghasil kayu untuk bahan baku dan bahan bangunan, bahan
makanan dan obat-obatan. Hutan mangrove menurut Snedaker (1978) adalah kelompok
jenis tumbuhan Mangrove yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai
sub-tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung
garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah an-aerob. Berdasarkan
Surat Keputusan Direktorat Jenderal Kehutanan No. 60/Kpts/Dj/I/1978, yang
dimaksud dengan hutan mangroveadalah tipe hutan yang terdapat di sepanjang
pantai atau muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut, yaitu
tergenang air laut pada waktu pasang dan bebas dari genangan pada waktu surut. Di
Teluk Ambon, hutan mangrove merupakan ekosistem yang penting untuk mendukung
pembangunan dan perlindungan Kota Ambon. Selain sebagai pelindung laut
sekaligus pelindung daratan, hutan
mangrove di kawasan ini memiliki fungsi sebagai kawasan konservasi hidupan liar
dan pencegah sedimentasi.
Hasil
kajian geomorfologi pantai menunjukkan keadaan Teluk Ambon ditopang oleh aliran
sungai-sungai kecil dan alur air pasang-surut serta lokasinya terletak pada
teluk tertutup terhindar dari hempasan gelombang besar. Karakteristik pantai
semacam ini sebenarnya sangat cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan
mangrove. Hutan mangrove di Teluk Ambon yang paling luas terdapat di wilayah
Passo dan sekitarnya. Ketebalan hutan mangrove di wilayah ini mencapai 200 m
dari garis pantai. Hutan mangrove di wilayah tersebut didukung oleh topografi
yang landai berupa rataan lumpur yang cocok untuk pertumbuhan hutan mangrove.
Untuk melihat kondisi ekosistem hutan mangrove di Passo harus mengukur struktur
komunitasnya yaitu kebergaman suatu spesies. Maka dari itu makalah ini membahas
mengenai perhitungan keragaman spesies di desa Passo.
1.1.Rumusan
Masalah
1.1.1.
Apa itu struktur komunitas ?
1.1.2.
Bagaimana parameter sturuktur komunitas
?
1.1.3.
Bagaimana menghitung keragamaan jenis
Mangrove di Passo ?
1.1.4.
Bagaimana kondisi mangrove di Passo ?
1.2.Tujuan
Penulisan Makalah
1.2.1.
Dapat mengetahui apa itu struktur
komunitas
1.2.2.
Dapat mengetahui parameter struktur
komunitas
1.2.3.
Dapat menghitung keragaman jenis
Mangrove di Passo
1.2.4.
Dapat mengetahui kondisi mangrove di
Passo
BAB
II
METODE
PRAKTEK
2.1.Waktu
dan Lokasi Praktek
Praktek ini dilakukan di daerah Passo
atau tepatnya di belakang BTN Passo Indah dekat muara Sungai Air Besar yang
mengarah ke Laut Teluk Ambon Dalam (TAD) pada (waktu belum diketahui). Tipe
substat Mangrove di Passo yaitu ada yang berlumpur dan ada yang berpasir. Praktek
ini dilakukan pada saat surut. Dengan Titik Koordinat Teluk Ambon Dalam yaitu
Gambar 1. Peta Lokasi Praktek
2.2.Alat
Tabel 1. Alat
Alat
|
Fungsi/Kegunaan
|
Kompas
|
Menentukan titik koordinat
|
Tali Rapia
|
Membuat transek
|
Rol Meter
|
Mengukur jarak dan diameter pohon
|
Kamera
|
Dokumentasi
|
Alat Tulis
|
Mencatat hasil
|
Buku Identifikasi Mangrove
|
Mengidentifikasi mangrove
|
23.Teknik
Sampling
Metode yang
dipakai yaitu metode transect digunakan
untuk mengetahui kondisi vegetasi hutan mangrove dan potensi kehadiran
jenis-jenis tanaman mangrove di Passo. Transek yang digunakan untuk praktek
yaitu berupa garis lurus dibuat tegak lurus pantai, data dicuplik dengan
menggunakan metode kuadrat yang berukuran 1 0 x 1 0 meter untuk pohon (diameter
> 10 cm; tinggi >4 m); untuk sapihan (diameter 2-<10 cm; tinggi 2-4m)
dibuat petak berukuran 5 x 5 meter. Sedangkan untuk anakan (diameter < 2cm;
tinggi 2m). Pada lokasi di ambil 2 plot yang setiap plot yang ada determinasi
setiap jenis tumbuhan mangrove yang ada, hitung jumlah individu setiap jenis
dan ukur lingkar batang setiap pohon mangrove. Identifikasi jenis mangrove
dilakukan secara insitu dengan menggunakan buku identifikasi oleh Noor et
al. (1999). Untuk mengetahui pohon, anakan atau sapihan harus mengukur
diameter batang dari masing – masing individu. Data vegetasi diperoleh melalui
pengamatan lapangan yang dilakukan setiap plot. Data yang diamati adalah
vegetasi mangrove untuk semua strata pertumbuhan yaitu pohon, sapihan, dan
anakan. Ketentuan untuk pengukuran diameter batang dan perhitungan kerapatan
individu tumbuhan dalam praktek ini
dilakukan sebagai berikut: (1) pengukuran dilakukan setinggi 130 cm di atas
permukaan tanah; (2) untuk vegetasi yang memiliki banir (untuk pohon-pohon dari
marga Bruguiera)/tunjang (untuk pohon-pohon dari marga Rhizophora)
dengan ketinggian lebih dari 130 cm di atas pengukuran tanah, pengukuran
dilakukan 20 cm di atas banir; (3) vegetasi yang bercabang, apabila letak
percabangan lebih tinggi dari 130 cm di atas permukaan tanah, maka pengukuran
diameter dilakukan setinggi 130 cm (vegetasi dianggap satu), sedangkan apabila
tinggi percabangan di bawah 130 cm dari permukaan tanah, pengukuran dilakukan
terhadap semua cabang (vegetasi dianggap sebanyak cabang); (4) apabila setengah
atau lebih bagian tajuk masuk ke dalam plot, maka pengukuran dilakukan, namun
apabila sebaliknya pengukuran tidak dilakukan; (5) khusus vegetasi anakan tidak
dilakukan pengukuran diameter, hanya dihitung jumlah individunya. Diamater
pohon ini dikenal dengan DBH (diamater at breast height).
2.4.Analisa
data
Syarat dari
suatu komunitas mangrove yaitu keragamaan jenis, dominansi, frekuensi ,
kelimpahannya dll. a. Keanekaragaman ditentukan dengan menggunakan rumus kenekaragaman menurut Shannon-Wiener (1984) dalam Bengen (2000) sebagai berikut :
Dimana
:
H’ : Indeks diversitas jenis
Ni : Jumlah individu masing-masing jenis
N : Jumlah total individu semua jenis
b. Untuk menghitung suatu spesies yang mendominasi ekosistem mangrove serta frekuensinya yaitu dengan rumus menurut Cintron dan Novelly 1984 sbb :
dimana R adalah jari - jari lingkaran dai diameter batang; D adalah DBH. BA yang didapatkan kemudian dikonveris menjadim2
c. Untuk melihat kelimpahan data yang diperoleh,
digunakan rumus kelimpahan (Heryanti et al., 1986 dalam Dharmawan et
al., 2005).
Dimana, Pi = Nilai kelimpahan
d. Penutupan Jenis (Ci) adalah luas penutupan jenis
i dalam suatu unit area
adalah suatu konstanta dan DBH adalah diameter pohon dari jenis i, A adalah luas total area plot. DBH = CBH/3.141. CBH adalah besarnya lingkaran pohon
Penutupun Relatif Jenis (RCi) (%) adalah perbandingan antara luas area penutupan jenis i (Ci) dan luas total area penutupan untuk seluruh jenis (SigmaC) maka persamaannya :
e. Kerapatan jenis (Di) merupakan jumlah tegakan jenis ke-i dalam suatu unit area (Bengen, 2000). Penentuan kerapatan jenis melalui rumus :
Di = Ni/A
Dimana :
Di : Kerapatan jenis ke-i
Ni : Jumlah total individu
ke-i
A : Luas total area
pengambilan contoh (m²)
Kerapatan
relatif (RDi) merupakan jumlah perbandingan antara jumlah jenis tegakan jenis
ke-1 dengan total tegakan seluruh jenis (Bengen, 2000). Penentuan kerapatan
Relatif (RDi) menggunakan rumus :
Dimana :
RDi : Kerapatan Relatif
Ni : Jumlah total
Σn : Total tegakan seluruh
jenis
f. Jumlah nilai kerapatan relatif jenis (RDi), frekuensi relatif jenis (RFi) dan penutupan relatif jenis (RCi) menunjukan indeks Nilai Penting (INP) untuk masing – masing jenis
INP
= Rdi + Rfi+Rci
Nilai penting suatu
jenis berkisar antara 0 – 300. Indeks ini memberikan suatu gambaran mengenai
pengaruh dan peranan suatu jenis tumbuhan mangrove dalam suatu komunitas.